1 Maret 2012

Asal Usul Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali diselenggarakan oleh Muzaffar ibn Baktati, raja Mesir yang terkenal arif dan bijaksana. Sedangkan pencetus ide peringatan adalah panglima perangnya, Shalahuddin Yussuf Al-Ayubi (abad ke-6 M), sosok pemimpin pasukan Islam yang pernah mengalahkan pasukan Kristen dalam Perang Salib.
Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M). Seperti disebutkan dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, ia kemudian juga gigih menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi dari tahun ke tahun di masanya.

Mengapa Shalahuddin merasa perlu mengadakan peringatan Maulid? Sang panglima berpendapat, ketika Perang Salib terjadi, motivasi umat Islam sangat menurun, sementara motivasi pasukan Salib (Kristen) meningkat. Hal ini tentu tidak kondusif bagi pasukan Islam, sehingga Shalahuddin merasa perlu membangkitkan kembali semangat umat Islam sebagaimana umat Kristen dengan perayaan Natal-nya. Maka sang panglima ini kemudian mengadakan peringatan hari lahir Muhammad SAW yang kemudian dikenal dengan sebutan Maulid Nabi.

Bila dalam peringatan Natal kaum Kristen dikisahkan tentang keagungan Yesus, maka dalam peringatan Maulid, Shalahuddin menggemakan kisah perang yang dilakukan Nabi SAW. Tapi belakangan, yang dibacakan pada acara peringatan Maulid tersebut berubah, bukan lagi kisah perang, melainkan kisah lahir dan hidup sang Nabi SAW. Kisah perang tampaknya dianggap tak lagi relevan lagi.
Kini, meskipun tak ada lagi perang fisik di kalangan umat Islam, peringatan Maulid Nabi tampaknya masih perlu dilakukan. Selain dimaksudkan untuk meneladani akhlak Muhammad SAW, peringatan Maulid juga diperuntukkan untuk perang yang lebih besar, yakni perang melawan hawa nafsu, kemungkaran, dan kemaksiatan. Krisis berkepanjangan bangsa Indonesia saat ini, antara lain disebabkan merajalelanya kemaksiatan, kemungkaran dan tidak adanya penegakan nilai-nilai moral. Hawa nafsu lebih mendominasi kehidupan umat manusia saat ini ketimbang moral.

Perang dalam bentuk non-fisik inilah yang dinilai lebih berat dari perang fisik. Apalagi di tengah perkembangan globalisasi saat ini, yang tak jarang memperlemah semangat keimanan umat Islam, maka peringatan Maulid Nabi SAW menjadi sangat penting. 

Hari ini tepatnya tanggal 26 Pebruari 2010 atau dalam tanggal hijriahnya 12 Rabiul Awal 1431 H adalah tepat hari libur untuk menghormati hari kelahirannya Nabi Muhammad SAW di Indonesia khususnya peringatan ini diberi nama Hari Maulid Nabi Muhammad SAW.  Dalam agama Islam sebenarnya tidak ada peringatan secara khusus dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kenapa adanya peringatan ini ? tentunya ada asal muasalnya kenapa maulid nabi itu diperingati. Berikut adalah beberapa sumber yang didapatkan saya dalam penelusuran bagaimana asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.


Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.


Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi --orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub --katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.


Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.


Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.


Begitulah kurang lebih asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini diikuti oleh hampir seluruh negara muslim dunia termasuk Indonesia. Sampai pada saatnya kita haruslah mengambil suatu hikmah dari peringatan ini. Jadikanlah peringatan ini sebagai momentum yang baik untuk berjuang semampu kita dalam menghadapi kerasnnya kehidupan ini. Berjuang untuk selalu istiqomah dalam menjalankan syariat Islam sebagai bekal kita dalam menghadapi hari akhir dan hari pembalasan.

Hikmah dibalik Memperingati Maulid Nabi Besar MUHAMMAD.S.A.W

       Setiap kali Rabi`ul Awwal menjelang, kita akan memperingati hari kelahiran Rasulullah s.a.w. Bagi pendakwah, kedatangan bulan Maulid Nabi ini adalah satu untuk kita memperbaharui keyakinan kita terhadap kesaksian bahawa Muhammad Rasulullah s.aw dan meningkatkan komitmen untuk menunaikan tanggungjawab dari keyakinan itu.
       Berikut adalah perkara-perkara yang perlu ditunaikan oleh setiap muslim khususnya para pendakwah yang berkaitan dengan keimanannya terhadap nabi Muhammad s.a.w;
1. Mencontohi beliau dalam semua perkara dengan berusaha untuk melakukan sunnah-sunnah beliau.
2. Menyebarkan sunnah Rasulullah s.a.w di kalangan manusia dan masyarakat. Ini dilakukan secara sempurna dengan penglibatan yang aktif dalam usaha dakwah. Usaha mengajak manusia untuk mengamalkan Islam berdasarkan ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.
3. Mempertahankan sunnah Rasulullah s.a.w dari penyelewengan dan serangan mereka yang dengki terhadapnya. Ini juga tidak dapat dicapai kecuali dengan penglibatan dalam usaha dakwah. Bahkan lebih penting lagi ialah usaha dakwah yang kolektif.
4. Berkaitan dengan segala di atas, hendaklah ada dalam kehidupan kita masa untuk kita membaca dan mengkaji buku-buku hadits kerana tidak mungkin kita dapat melakukan sunnah Rasulullah s.a.w menyebar dan mempertahankannya jika tidak mengetahuinya. Tidak mungkin pula, kita dapat mengetahui sunnah Rasulullah s.a.w jika tidak mengkaji dan membacanya. Begitu juga dengan mengkaji sirah Rasulullah s.a.w bagi mendapat panduan dan untuk dijadikan bahan iktibar dalam usaha dakwah. Usaha ini seharusnya tidak terhenti dalam kehidupan kita kerana luasnya ilmu berkaitan hadits dan sirah Rasulullah s.a.w dan banyaknya buku yang ada sebagai bahan kajian. Usaha ini juga penting kerana ia akan membantu memperingatkan diri kita yang pelupa, memperbaharui kasih kita kepada Rasulullah s.a.w dan mempertingkatkan komitmen dalam usaha dakwah.
5. Hendaklah kita sentiasa berselawat ke atas Rasulullah s.a.w sebagai tanda kasih kita kepada beliau dan sebagai sebahagian dari zikir harian kita yang akan menyucikan dan menguatkan rohani kita. Bagi pendakwah, berselawat ke atas Rasulullah s.a.w setiap hari adalah sesuatu yang mesti. Bagi pendakwah, selawat adalah sesuatu yang seharusnya membasahi bibir dan mulut kita. Adalah malang jika dalam sehari selawat kita kepada Rasulullah s.a.w tidak melebihi dari jari yang kita miliki. Sedangkan ia adalah satu amal yang mudah. Ia boleh dilakukan hampir di mana sahaja dan pada bila-bila masa. Samada ketika memandu, dalam MRT, berehat sebentar dari tugas di pejabat dan sebagainya.
                                                                                                                                         

Hasil dari apa yang dinyatakan di atas, ialah rasa kerinduan yang amat sangat terhadap Rasulullah s.a.w dalam diri kita. Rindu untuk bertemu beliau, rindu untuk bersalam dan mengucup tangan beliau dan rindu untuk mendakap beliau. ibarat seorang yang merindui kekasihnya atau isterinya yang lama telah ditinggalkannya kerana bermusafir.

Bersedihlah kita hari ini, apabila hari-hari sebelum ini kita tidak pernah merasai kerinduan kepada Rasulullah s.a.w sedangkan kita sering merindui isteri, anak-anak atau kekasih.
Kerinduan inilah yang akan membentuk dorongan yang kuat untuk terus menjayakan perjuangan ini kerana kita memahami bahawa kerinduan ini tidak akan terubat kecuali dengan bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Untuk bertemu dengan Rasulullah s.a.w, kita haruslah layak untuk memasuki syurga dan tidak mungkin, kita dapat memasuki syurga jika amal kita sedikit dan komitmen kita kepada perjuangan ini lemah.
Umat dahulu, kerana kerinduannya yang sangat kepada Rasulullah s.a.w telah mendorong mereka untuk terjun dalam medan jihad pertempuran kerana ingin cepat menjadi syuhada agar cepat pula bertemu dengan Rasulullah s.a.w.

 “Ya Allah! Sampaikan selawat dan salam kepada RasulMu, kekasih Kau dan kekasih kami. Sampaikanlah rasa kerinduan kami kepada beliau. Ubatilah kerinduan ini dengan satu pertemuan yang segera antara kami dan beliau dalam keadaan berdakapan.

Setelah Nabi sallAllahu wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya – tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

1 komentar: